Tuesday, January 3, 2017

Puisi HAM : "Anak Didikmu Bukanlah Anakmu"

Standard

Anak bukanlah anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan ...
Cinta kasihmu dapat kau berikan pada mereka, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka mempunyai pikiran sendiri
Raga mereka dapat kau kurung, tapi tidak jiwa mereka
Karena jiwa mereka tinggal di rumah masa depan
Yang tak dapat kau kunjungi
Bahkan tidak melalui mimpimu
Kau dapat berjuang menyerupai mereka
Tapi jangan coba buat mereka menyerupaimu
Karena hidup tidak berjalan mundur
Ataupun berlambat-lambat dengan hari kemarin
Kau adalah busur yang memastikan mereka,
Anak panah yang berjiwa

(Kahlil Gibran)

Sebuah puisi karya The Prophet, Kahlil Gibran ini menggambarkan tentang hak anak untuk tumbuh dan berkembang serta mendapatkan perlindungan atas kekerasan dan perilaku diskriminasi. Sebagaimana dijelaskan dalam UUD 1945 Pasal 28 B Ayat (2) tentang Hak anak untuk tidak mengalami kekerasan dan diskriminasi, maka sudah seharusnya bagi anak-anak mendapatkan haknya tersebut. Hak ini merupakan hak mendasar yang seharusnya didapatkan oleh setiap insan, yang lebih kita kenal dengan sebutan "Hak Asasi Manusia".

Monday, January 2, 2017

Surat Rasulullah Saw Kepada Raja Mukaukis

Standard

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٨٢


"Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui"
(Q.S Saba' : 28)

Pada bulan Muharram di tahun ke-7 Hijriyah, Rasulullah Saw mnegirimkan surat bersama enam utusan kepada setiap penguasa dengan maksud mengajak mereka kepada agama Islam. Beliau mengutus Khatib bin Abi Balta'ah Ra kepada Mukaukis, seorang penguasa Iskandariah dan pembesar Kibti. Di dalam surat yang sudah distempel dengan stempel yang bertuliskan "Muhammadun Rasulullah".

Rasulullah Saw bersabda, "Bismillahirrahmanirrahim", dari hamba Allah dan utusan-Nya Muhammad kepada pembesar Kibti Mukaukis, keselamatan atas orang-orang yang megikuti petunjuk dan yang berpegang teguh kepada jalan yang benar. Sekarang, dengan seruan agama Islam aku mengajakmu kepada keislaman. Jadilah seorang Muslim, carilah keselamatan! Semoga Allah Swt memberikanmu pahala dan keuntungan dua kali lipat. Apabila kamu tidak menerima ajakanku ini, semoga dosa orang-orang Kibti akan terlimpah atasmu!" 

 قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ كَلِمَةٖ سَوَآءِۢ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُولُواْ ٱشۡهَدُواْ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ؟ 

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (Q.S Ali Imran : 64)

Setelah membacakan surat ini, Khatib Ra berkata seraya memberikan nasihat kepada Mukaukis, "Sebelum kamu, di sini ada seorang manusia (Fir'aun), dia mengakui bahwa dirinya Tuhan yang paling tinggi. Allah Yang Mahabesar memberikan pembalasan dan menghukumnya dengan siksaan dunia dan memberikan azab kepadanya di akhirat. Kau ambillah pelajaran dari yang lain, jangan menjadi pelajaran bagi yang lain!"

Ketika Mukaukis berkata, "Kami memiliki sebuah agama! Kami tidak mau meninggalkan agama ini selama tidak ada agama yang lebih baik darinya!" Sayyidina Khatib Ra pun menimpalinya, "Tidak diragukan lagi, agama yang lebih baik dari agamamu adalah agama Islam! Aku bersumpah demi hidupku, sebagaimana Musa As memberi kabar gembira tentang kedatangan Isa As, Isa As juga memberi kabar gembira tentang kedatangan Muhammad Saw. Ajakan kami kepada Al-Qur'an sama seperti ajakanmu kepada prngikut Taurat dan Injil. Orang-orang yang diutus kepadanya seorang nabi, karenanya mereka menjadi umat nabi tersebut dan diperintahkan untuk taat dan berman kepadanya. Sementara kamu termasuk dari orang-orang yang sampai kepada Nabi ini (Muhammad Saw)! Dengan kami mengajakmu kepada agama Islam, kami mengusulkan kepadamu melaksanakan ajakan Nabi Isa As."

Mukaukis melayani utusan Rasulullah Saw. Dia memberikan hadiah berupa dua hamba sahaya, pakaian-pakaian dan juga seekor bagal kepada Rasulullah Saw, tetapi karena Allah Swt tidak memberikan hidayah padanya, dia tidak menjadi seorang Muslim.

... وَإِن تُطِيعُوهُ تَهۡتَدُواْۚ وَمَا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ٤٥

.... jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang" 
(Q.S An-Nur : 54)

Sunday, December 11, 2016

Beberapa Jalan Untuk Menghasilkan Ilmu

Standard


Imam 'Azham Abu Hanifah Rh. berkata, "Saya dapat mempelajari ilmu dengan mengucapkan syukur dan hamdalah. Ketika saya mempelajari ilmu fiqih pada sebuah masalah dan hikmah, jika saya mengerti akan permasalahan tersebut, saya mengucapkan Alhamdulillah, saya telah memuji Allah Swt. Oleh karena hal itu, ilmu saya terus bertambah."

Imam 'Azham Abu Hanifah Rh sering memperoleh ilmu dengan cara muzakarah dan bertukar pengetahuan dengan para ahli ilmu di toko kain miliknya. Dari sini dapat dipahami bahwa untuk mendapatkan ilmu dan menjadi faqih dapat diperoleh dengan belajar dan bersungguh-sungguh.

Tatkala ditanyakan kepada Imam Abu Yusuf Rh, "Bagaimana Anda dapat menghasilkan ilmu, wahai Imam?" Beliau pun menjawab, "Untuk mempelajari masalah-masalah yang tidak saya pahami, saya tidak malu untuk bertanya. Saya tidak sombong dan saya tidak pelit untuk menjelaskannya kepada orang lain."

Ketika masih menjadi murid, tidak ada orang yang lebih miskin dari Imam Abu Yusuf Rh. Akan tetapi, kemiskinannya tidak mencegahnya untuk mempelajari ilmu.

Ibnu Abbas Ra ditanya, "Bagaimana Anda dapat mempelajari ilmu-ilmu ini?" Beliau menjawab, "Saya bertanya banyak tentang masalah-masalah yang tidak saya pahami, dan saya berpikir agar memahami masalah itu dengan baik."

Ditanyakan juga kepada Halil bin Ahmad, "Bagaimana Anda mempelajari ilmu ini?"

"Ketika saya berjumpa dengan seorang alim, saya belajar dari dia dan menyampaikan kepadanya apa saja yang saya ketahui."

Dongeng Ibunda : Si Pencuri Apel

Standard

Ada sebuah dongeng yang pernah ibunda ceritakan padaku, dan salah satu dari beberapa dongeng yang masih kuingat sampai sekarang. Masih kuingat jelas kata demi kata yang meluncur saat ibunda menceritakannya pertama kali sewaktu kecil dahulu.

Pada abad pertama hijriah, hiduplah seorang pemuda yang mengabdikan dirinya untuk menuntut ilmu syar’i, namun ia sangatlah miskin. Suatu hari, ketika ia merasa sangat lapar dan tidak mendapatkan sesuatu apapun yang bisa dimakan. Ia berusaha mencari makanan di luar rumahnya. Berjalan menelusuri sungai berharap menemukan sesuatu yang dapat dimakan. Tak lama kemudian, ia melihat sebuah apel yang hanyut terbawa arus sungai. Seketika itulah ia mengambil apel tersebut dan memakannya, setelah melakukan gigitan pertama dia teringat,

“Bagaimana aku bisa memakan buah apel itu padahal itu adalah harta seorang muslim, dan aku belum meminta izin kepadanya?" 

Kemudian ditemani dengan rasa bersalah itu, ia mencari tahu siapa sebenarnya pemilik apel ini dengan menelusuri sungai tersebut. Hingga sampailah ia pada suatu rumah yang memiliki kebun apel, yang salah satu pohonnya menjulur ke permukaan sungai. Akhirnya, pemuda tersebut pergi mencari pemilik kebun itu sampai didapatkkannya. Lalu, ia berkata kepada pemilik kebun,

“Wahai paman, aku menemukan salah satu apel dari kebunmu yang hanyut terbawa oleh arus sungai, dan aku telah memakan apel tersebut. Sekarang aku datang kepadamu untuk meminta izin kepadamu untuk menghalalkan apel ini.”

Pemilik kebun berkata, “Demi Allah, Aku tidak memaafkanmu dan aku tidak menghalalkan apel yang telah engkau makan itu. Bahkan, aku akan menggugatmu kelak pada hari kiamat di sisi Allah.”

Mendengar itu, pemuda itu langsung menangis dan memohon kepadanya supaya memperkenankannya, sambil berkata,

”Saya siap untuk bekerja apa saja dengan syarat agar paman memaafkanku dan menghalalkan apel itu untukku.”

Pemuda itu terus memohon kepada si pemilik kebun, sedangkan pemilik kebun justru semakin bersikukuh, lalu pergi meninggalkannya. Namun, pemuda itu membuntutinya dan tetap memohon maaf kepadanya hingga ia masuk rumah. Pemuda itu menunggu di sisi pintu, memantinya keluar untuk shalat Ashar. Ketika si pemilik kebun keluar rumah untuk suatu urusan, pemuda itu ternyata masih tetap berdiri dengan air mata yang membasahi jenggotnya. Pemuda itu berkata lagi,

“Wahai pamanku, sungguh aku siap untuk bekerja sebagai petani di kebun ini tanpa diberi upah sepanjang umurku atau apa saja yang kamu inginkan, tetapi dengan syarat Anda memaafkanku."

Pada saat itu, pemilik kebun berpikir sejenak, kemudian berkata, "Baiklah, kalau begitu. Engkau akan bekerja disini selama 8 tahun sebagai ganti rugi atas apel yang telah engkau makan".

Selama 8 tahun lamanya, pemuda itu bekerja dengan sangat giat, melakukan semua perintah yang diberikan kepadanya. Kebun apel itu semakin subur, buahnya semakin merah, dan rasanya semakin manis. Si pemilik kebun pun senang dengan apa yang telah dikerjakan olehnya. Kemudian si pemilik kebun memanggil pemuda tersebut, sesuai janji yang dahulu ia ucapkan.

“Anakku, aku siap untuk memaafkanmu sekarang, tetapi dengan satu syarat.”

Mendengar itu, si pemuda langsung gembira adn wajahnya berseri bahagia. Dia berkata, ”Berikanlah syarat sesukamu wahai pamanku.”

Si pemilik kebun berkata, ”Syaratku adalah supaya Kamu menikahi putriku.”

Pemuda itu terperanjat bukan kepalang mendengar jawaban itu. Dia sama sekali tidak pernah menyangka mendapat syarat ini. Namun, si pemilik kebun melanjutkan perkataannya,

"Akan tetapi, wahai anakku, ketahuilah bahwa putriku buta, tuli, bisu, dan juga lumpuh, tidak pernah berjalan sejak lama. Aku telah mencarikannya seorang suami yang dapat kupercaya untuk melindungi dan mendampinginya dengan segenap kriteria-kriteria yang disebutkannya. Apabila Kamu menyetujuinya, aku akan memaafkanmu.”

Pemuda itu kembali terperanjat bukan kepalang. Dia mulai berpikir bagaimana ia akan hidup dengan ketidaksempurnaan seperti ini, terlebih dia masih berusia belia? Bagaimana istrinya nanti akan melaksanakan urusan-urusannya, menjaga rumah dan memerhatikannya, sedangkan ia memiliki kekurangan-kekurangan tersebut? Dia mulai memperhitungkan dan berkata,

“Aku akan bersabar atasnya di dunia agar aku selamat dari petaka apel tersebut.”

Kemudian, ia berkata kepada pemilik kebun, “Wahai paman, aku telah menerima putrimu. Aku memohon kepada Allah semoga Dia memberiku pahala atas niatku dan memberiku ganti yang lebih baik dari yang kuterima.”

Pemilik kebun berkata, “Baiklah anakku, waktumu hari Kamis depan di rumahku untuk pesta pernikahanmu. Aku yang menanggung maharmu.” Hari kamis pun tiba. Pemuda datang dengan langkah berat, batin sedih, dan hati hancur, tidak seperti layaknya calon pengantin yang pergi menuju hari pernikahannya. Ketika ia mengetuk pintu, bapak sang wanita membukakannya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Setelah berbicang-bincang, ia berkata kepadanya,

“Anakku, silahkan masuk kepada istrimu. “Semoga Allah memberkahimu dalam kebahagiaan dan kesusahanmu, dan mengumpulkan kalian berdua di atas kebaikan.”

Lalu, ia memegang tangan si pemuda dan membawanya ke kamar putrinya. Ketika si pemuda membuka pintu dan melihat istrinya, ternyata ia justru mendapati seorang gadis putih yang sangat cantik, dengan rambut terurai seperti sutra di atas pundaknya. Istrinya itu langsung bangkit, ternyata ia berperawakan tegak. Kemudian, ia berjalan ke arah suaminya dan memberinya salam, “Assalamu’alaikum suamiku...” Si pemuda tetap berdiri di tempatnya sambil memerhatikan gadis yang baru ditemuinya itu. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Namun, gadis itu memahami apa yang berputar di benak suaminya. Ia menghampirinya, menjabat tangannya, dan mencium tangannya, lalu berkata,

“Sesungguhnya aku adalah buta dari melihat yang haram, bisu dan tuli dari mendengar hal yang haram, dan kedua kakiku tidak pernah melangkah kepada hal yang haram. Aku adalah anak semata wayang bapakku. Sejak beberapa tahun lalu, bapakku mencarikanku suami yang shalih. Maka, ketika Kamu datang meminta izin kepadanya karena satu buah apel dan kamu menangis karenanya, bapakku mengatakan bahwa barangsiapa takut memakan satu buah apel yang tidak halal baginya, pasti dia akan lebih takut kepada Allah dalam menjaga putriku, katanya, "Alangkah bahagianya aku yang telah mendapatkanmu sebagai suami, dan alangkah bahagianya ayahku dengan nasabmu”.

... وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ ... ٣

“2. ...Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar. 3. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka...” (Q. S Ath-Thalaq: 2-3)

Kemudian, setelah setahun berlalu, sang istri dikaruniani seorang anak hasil hasil benih yang ditanam pemuda yang termasuk orang-orang langka umat ini. Tahukah Anda siapakah anak kecil itu? Anak kecil itu adalah Abu Hanifah An-Numan bin Tsabit, ahli fiqh mazhab Islam yang mahsyur. Ulama besar yang keilmuannya terpandang di kalangan para bangsawan.

Dan kita bisa mengambil pelajaran bahwa benarlah apa yang dikatakan Syaikh Musthafa Al-'Adawi hafizhohullah (dalam Fiqh Tarbiyatul Abna') bahwa, 

"Kebaikan dan amal shalih kedua orang tua, memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan seorang anak, dan bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Demikian pula amal buruk dan dosa-dosa besar yang dilakukan oleh kedua orang tua, memiliki dampak negatif terhadap pendidikan anak."

Sunday, November 20, 2016

Essay : Behind Every Succesful Man

Standard

A succesful man without a great woman behind him is like a library without books. Success of  a man caused great woman beside him. Woman characters support a man to be success very significant. Lot of man who have been successful and famous in the world admit that the most factor of their success because have a right and proper wife, so as to pass every stage in fighting their carrier.

An example, Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him) and his wife, Khadijah. He never forgot service from Khadijah during hassling in his missionary. After married her, Muhammad got safety warranties more stronger. Khadijah is generation of high family in Jazirah Arab. Else, as financial, prophet very helped by successful business his wife. With the result that, Rasulullah able to concentrate spreading Islam. At that time, after received first divine revelation, Muhammad go home accompanying perspiration on all bodies and frighten trembling, then Khadijah cover him while said, ''Calm my husband. Believe, Allah always keeping you.'' 

From the sources, we were reminded once again how important a supportive, confident wife is for the ongoing success of a powerful man.

While it's certainly not a requirement for career success, a supportive life partner can propel you professionally and make life richer and more meaningful. Here are some of the things that a great woman can do for you.

Firstly, woman which always supporting. A wife who always supporting her husband is a good woman who ready to support her spouse in every condition. 

Secondly, woman which always praying. A virtous wife must praying her husband. Lot of people says woman’s pray is very momentous strength.

And the third, woman who can be good listener. A wise wife is a woman that be present when her spouse in a pressure or emotional condition can be a good listener, just heard until her spouse free of worry.

Latest, woman who can make her spouse happy is key indicator to boosting prosperity of her spouse. When a marriage happy, so anyone more motivated to be better in the future.

Everyone have big chance to achieve glory in his life, in this matter, if you want to get it you must find out your woman. You can start to write down every single quality, feature, a description of how such a woman would look as though. Began to write everthing down. Visualized her beauty, her smile, her star qualities, imagined what it would be like to have such a woman in your life to share your dreams, love and laughter with.