Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Thursday, January 12, 2017

Adab : "Mahkota Dari Nur Allah"

Standard


Adab dapat menjadikan seseorang memiliki sikap atau tata krama dan pedidikan yang baik. Adab juga merupakan sebuah kemampuan yang dapat menjaga seseorang dari segala sesuatu yang dapat membuatnya merasa malu dan kehilangan harga diri.

Sariyyi As-Sakati RH telah menjelaskan, ‘’Pada suatu malam ketika aku telah melaksanakan shalat, aku memanjangkan kakiku ke arah mihrab. Kemudian aku mendengar suara, “Apakah berani kau melakukan hal ini ketika berada di hadapan para sultan?’’ “Demi keagungan dan kebesaran Allah SWT, aku tidak pernah melakukannya.’’ Jawabku.

Setelah kejadian itu, As-Sakati RH tidak pernah memanjangkan lagi kakinya, baik malam atau pun siang.

Sayidina Umar RA berkata, “Jadilah seseorang yang memiliki adab baik, setelah itu barulah pelajari ilmu!”

Abdullah Ibnu Mubarak RH berkata, “Apabila dikatakan kepadaku adanya seseorang yang memiliki pengetahuan tentang segala sesuatu yang telah berlalu dan pengetahuan tentang sesuatu yang akan datang, aku tidak akan bersedih ketika tidak dapat berjumpa dengannya. Namun, ketika aku mendengar tentang seseorang yang memiliki adab yang baik, aku berharap dapat berjumpa dengannya. Aku akan bersedih kalau aku tidak dapat berjumpa dengannya.”

“Keunggulan seseorang bukan ditentukan dengan asal keturunan dan keningratannya, tetapi keunggulan seseorang ditentukan oleh akal dan adabnya. Karena biasanya seseorang yang tidak memiliki adab yang baik, keturunannya pun tidak baik. Orang yang akalnya tersesat asalnya pun akan hilang.”

“Sebagaimana api akan membesar dengan kayu bakar, hati seseorang pun akan menjadi kuat dengan dibersihkan oleh adabnya. Ahlak yang baik akan menutupi aib keturunannya.”

“Ilmu hanya dapat dipahami dengan adab, amal perbuatan hanya bisa diterima dengan ilmu, keridhaan Allah SWT akan diperoleh dengan amal.

Wednesday, January 4, 2017

Burung Merpati

Standard

Seorang raja Dabsalim berkata kepada seorang filsuf bernama Baidaba: "aku mendengar kisah sepasang kekasih yang terputus hubungan di antara keduanya karena seorang yang berbohong. Bagaimana pembohong memutuskan mereka berdua? Ceritakanlah jika kau melihat seorang yang memulai berhubungan baik diantara keduanya."

Filsuf menjawab: "seorang yang bijaksana tidak akan mengkhianati saudaranya, saling menolong dalam hal kebaikan, dan menjadi pelipur lara ketika tertimpa musibah.

Perumpamaannya sama seperti kisah burung merpati, tikus, kijang, dan burung gagak.

Raja bertanya, "bagaimanakah kisah itu?"

Baidaba berkata, "alkisah ada sebuah desa bernama Sakawandajin di Kota Dahar yang banyak didatangi pemburu untuk berburu. Di tempat itu banyak terdapat pohon yang rindang. Di dalamnya banyak sarang burung gagak."

Suatu hari burung gagak hinggap ke sarangnya, ia melihat ada seorang pemburu yang buruk rupa. Pemburu dengan jaring di lehernya dan sebilah kayu dari ranting pohon di tangannya. Dengan alat itu membuat burung-burung menjadi takut.

Burung gagak berkata: "telah mengutus laki-laki ke tempat ini. Kebaikan atau kebinasaan. Menunjukkan lokasi kita hingga aku melihat apa yang akan ia lakukan."

Kemudian Si pemburu menaikkan jaringnya dan merentangkan di atas pohon itu, lalu ia bersembunyi dekat dari situ. Ia berdiam sejenak hingga banyak burung gagak yang lewat bersama gerombolannya dan tidak melihat jaring itu. Lalu mereka terjatuh dalam perangkap tersebut. Semuanya tergantung di jaring. Lalu pemburu mendatanginya dengan senang dan gembira. Burung-burung kicau memberontak dan berterbangan di atas perangkap itu, dan memohon agar menyelamatkan dirinya.

Burung merpati berkata: "jangan siksa kami, jangan kau lukai kami, jangan kau jadikan kami lebih penting dari diri temannya, Mari kita saling menolong lalu kita terbang seperti satu burung, lalu kita lolos satu persatu."

Lalu pemburu itu mengumpulkan kami dalam satu keranjang. Kemudian ia memindahkan burung-burung dari jaring dengan bekerja sama dengannya di udara. Pemburu tidak menolongnya, ia minta dari para burung, ia berpikir bahwa para burung tidak memotong dekat kakinya, lalu terjatuh.

Burung gagak berkata: "untuk mengikuti dan melihat untuk kita hancurkan burung-burung dara maka pemburu akan melihat dan mengikuti mereka."

Burung merpati berkata: "pemburu tidak akan mengikuti permintaan kalian. Sungguh kita telah mengambil ruang terbuka, tidak menjadi ringan pekerjaan kita dan kita tidak akan hidup"

Tugas Penerjemahan Kisah "Burung Merpati"
By : Murojab Nugraha (Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Semester Akhir)

Monday, January 2, 2017

Surat Rasulullah Saw Kepada Raja Mukaukis

Standard

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٨٢


"Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui"
(Q.S Saba' : 28)

Pada bulan Muharram di tahun ke-7 Hijriyah, Rasulullah Saw mnegirimkan surat bersama enam utusan kepada setiap penguasa dengan maksud mengajak mereka kepada agama Islam. Beliau mengutus Khatib bin Abi Balta'ah Ra kepada Mukaukis, seorang penguasa Iskandariah dan pembesar Kibti. Di dalam surat yang sudah distempel dengan stempel yang bertuliskan "Muhammadun Rasulullah".

Rasulullah Saw bersabda, "Bismillahirrahmanirrahim", dari hamba Allah dan utusan-Nya Muhammad kepada pembesar Kibti Mukaukis, keselamatan atas orang-orang yang megikuti petunjuk dan yang berpegang teguh kepada jalan yang benar. Sekarang, dengan seruan agama Islam aku mengajakmu kepada keislaman. Jadilah seorang Muslim, carilah keselamatan! Semoga Allah Swt memberikanmu pahala dan keuntungan dua kali lipat. Apabila kamu tidak menerima ajakanku ini, semoga dosa orang-orang Kibti akan terlimpah atasmu!" 

 قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ كَلِمَةٖ سَوَآءِۢ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُولُواْ ٱشۡهَدُواْ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ؟ 

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (Q.S Ali Imran : 64)

Setelah membacakan surat ini, Khatib Ra berkata seraya memberikan nasihat kepada Mukaukis, "Sebelum kamu, di sini ada seorang manusia (Fir'aun), dia mengakui bahwa dirinya Tuhan yang paling tinggi. Allah Yang Mahabesar memberikan pembalasan dan menghukumnya dengan siksaan dunia dan memberikan azab kepadanya di akhirat. Kau ambillah pelajaran dari yang lain, jangan menjadi pelajaran bagi yang lain!"

Ketika Mukaukis berkata, "Kami memiliki sebuah agama! Kami tidak mau meninggalkan agama ini selama tidak ada agama yang lebih baik darinya!" Sayyidina Khatib Ra pun menimpalinya, "Tidak diragukan lagi, agama yang lebih baik dari agamamu adalah agama Islam! Aku bersumpah demi hidupku, sebagaimana Musa As memberi kabar gembira tentang kedatangan Isa As, Isa As juga memberi kabar gembira tentang kedatangan Muhammad Saw. Ajakan kami kepada Al-Qur'an sama seperti ajakanmu kepada prngikut Taurat dan Injil. Orang-orang yang diutus kepadanya seorang nabi, karenanya mereka menjadi umat nabi tersebut dan diperintahkan untuk taat dan berman kepadanya. Sementara kamu termasuk dari orang-orang yang sampai kepada Nabi ini (Muhammad Saw)! Dengan kami mengajakmu kepada agama Islam, kami mengusulkan kepadamu melaksanakan ajakan Nabi Isa As."

Mukaukis melayani utusan Rasulullah Saw. Dia memberikan hadiah berupa dua hamba sahaya, pakaian-pakaian dan juga seekor bagal kepada Rasulullah Saw, tetapi karena Allah Swt tidak memberikan hidayah padanya, dia tidak menjadi seorang Muslim.

... وَإِن تُطِيعُوهُ تَهۡتَدُواْۚ وَمَا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ٤٥

.... jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang" 
(Q.S An-Nur : 54)

Sunday, December 11, 2016

Dongeng Ibunda : Si Pencuri Apel

Standard

Ada sebuah dongeng yang pernah ibunda ceritakan padaku, dan salah satu dari beberapa dongeng yang masih kuingat sampai sekarang. Masih kuingat jelas kata demi kata yang meluncur saat ibunda menceritakannya pertama kali sewaktu kecil dahulu.

Pada abad pertama hijriah, hiduplah seorang pemuda yang mengabdikan dirinya untuk menuntut ilmu syar’i, namun ia sangatlah miskin. Suatu hari, ketika ia merasa sangat lapar dan tidak mendapatkan sesuatu apapun yang bisa dimakan. Ia berusaha mencari makanan di luar rumahnya. Berjalan menelusuri sungai berharap menemukan sesuatu yang dapat dimakan. Tak lama kemudian, ia melihat sebuah apel yang hanyut terbawa arus sungai. Seketika itulah ia mengambil apel tersebut dan memakannya, setelah melakukan gigitan pertama dia teringat,

“Bagaimana aku bisa memakan buah apel itu padahal itu adalah harta seorang muslim, dan aku belum meminta izin kepadanya?" 

Kemudian ditemani dengan rasa bersalah itu, ia mencari tahu siapa sebenarnya pemilik apel ini dengan menelusuri sungai tersebut. Hingga sampailah ia pada suatu rumah yang memiliki kebun apel, yang salah satu pohonnya menjulur ke permukaan sungai. Akhirnya, pemuda tersebut pergi mencari pemilik kebun itu sampai didapatkkannya. Lalu, ia berkata kepada pemilik kebun,

“Wahai paman, aku menemukan salah satu apel dari kebunmu yang hanyut terbawa oleh arus sungai, dan aku telah memakan apel tersebut. Sekarang aku datang kepadamu untuk meminta izin kepadamu untuk menghalalkan apel ini.”

Pemilik kebun berkata, “Demi Allah, Aku tidak memaafkanmu dan aku tidak menghalalkan apel yang telah engkau makan itu. Bahkan, aku akan menggugatmu kelak pada hari kiamat di sisi Allah.”

Mendengar itu, pemuda itu langsung menangis dan memohon kepadanya supaya memperkenankannya, sambil berkata,

”Saya siap untuk bekerja apa saja dengan syarat agar paman memaafkanku dan menghalalkan apel itu untukku.”

Pemuda itu terus memohon kepada si pemilik kebun, sedangkan pemilik kebun justru semakin bersikukuh, lalu pergi meninggalkannya. Namun, pemuda itu membuntutinya dan tetap memohon maaf kepadanya hingga ia masuk rumah. Pemuda itu menunggu di sisi pintu, memantinya keluar untuk shalat Ashar. Ketika si pemilik kebun keluar rumah untuk suatu urusan, pemuda itu ternyata masih tetap berdiri dengan air mata yang membasahi jenggotnya. Pemuda itu berkata lagi,

“Wahai pamanku, sungguh aku siap untuk bekerja sebagai petani di kebun ini tanpa diberi upah sepanjang umurku atau apa saja yang kamu inginkan, tetapi dengan syarat Anda memaafkanku."

Pada saat itu, pemilik kebun berpikir sejenak, kemudian berkata, "Baiklah, kalau begitu. Engkau akan bekerja disini selama 8 tahun sebagai ganti rugi atas apel yang telah engkau makan".

Selama 8 tahun lamanya, pemuda itu bekerja dengan sangat giat, melakukan semua perintah yang diberikan kepadanya. Kebun apel itu semakin subur, buahnya semakin merah, dan rasanya semakin manis. Si pemilik kebun pun senang dengan apa yang telah dikerjakan olehnya. Kemudian si pemilik kebun memanggil pemuda tersebut, sesuai janji yang dahulu ia ucapkan.

“Anakku, aku siap untuk memaafkanmu sekarang, tetapi dengan satu syarat.”

Mendengar itu, si pemuda langsung gembira adn wajahnya berseri bahagia. Dia berkata, ”Berikanlah syarat sesukamu wahai pamanku.”

Si pemilik kebun berkata, ”Syaratku adalah supaya Kamu menikahi putriku.”

Pemuda itu terperanjat bukan kepalang mendengar jawaban itu. Dia sama sekali tidak pernah menyangka mendapat syarat ini. Namun, si pemilik kebun melanjutkan perkataannya,

"Akan tetapi, wahai anakku, ketahuilah bahwa putriku buta, tuli, bisu, dan juga lumpuh, tidak pernah berjalan sejak lama. Aku telah mencarikannya seorang suami yang dapat kupercaya untuk melindungi dan mendampinginya dengan segenap kriteria-kriteria yang disebutkannya. Apabila Kamu menyetujuinya, aku akan memaafkanmu.”

Pemuda itu kembali terperanjat bukan kepalang. Dia mulai berpikir bagaimana ia akan hidup dengan ketidaksempurnaan seperti ini, terlebih dia masih berusia belia? Bagaimana istrinya nanti akan melaksanakan urusan-urusannya, menjaga rumah dan memerhatikannya, sedangkan ia memiliki kekurangan-kekurangan tersebut? Dia mulai memperhitungkan dan berkata,

“Aku akan bersabar atasnya di dunia agar aku selamat dari petaka apel tersebut.”

Kemudian, ia berkata kepada pemilik kebun, “Wahai paman, aku telah menerima putrimu. Aku memohon kepada Allah semoga Dia memberiku pahala atas niatku dan memberiku ganti yang lebih baik dari yang kuterima.”

Pemilik kebun berkata, “Baiklah anakku, waktumu hari Kamis depan di rumahku untuk pesta pernikahanmu. Aku yang menanggung maharmu.” Hari kamis pun tiba. Pemuda datang dengan langkah berat, batin sedih, dan hati hancur, tidak seperti layaknya calon pengantin yang pergi menuju hari pernikahannya. Ketika ia mengetuk pintu, bapak sang wanita membukakannya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Setelah berbicang-bincang, ia berkata kepadanya,

“Anakku, silahkan masuk kepada istrimu. “Semoga Allah memberkahimu dalam kebahagiaan dan kesusahanmu, dan mengumpulkan kalian berdua di atas kebaikan.”

Lalu, ia memegang tangan si pemuda dan membawanya ke kamar putrinya. Ketika si pemuda membuka pintu dan melihat istrinya, ternyata ia justru mendapati seorang gadis putih yang sangat cantik, dengan rambut terurai seperti sutra di atas pundaknya. Istrinya itu langsung bangkit, ternyata ia berperawakan tegak. Kemudian, ia berjalan ke arah suaminya dan memberinya salam, “Assalamu’alaikum suamiku...” Si pemuda tetap berdiri di tempatnya sambil memerhatikan gadis yang baru ditemuinya itu. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Namun, gadis itu memahami apa yang berputar di benak suaminya. Ia menghampirinya, menjabat tangannya, dan mencium tangannya, lalu berkata,

“Sesungguhnya aku adalah buta dari melihat yang haram, bisu dan tuli dari mendengar hal yang haram, dan kedua kakiku tidak pernah melangkah kepada hal yang haram. Aku adalah anak semata wayang bapakku. Sejak beberapa tahun lalu, bapakku mencarikanku suami yang shalih. Maka, ketika Kamu datang meminta izin kepadanya karena satu buah apel dan kamu menangis karenanya, bapakku mengatakan bahwa barangsiapa takut memakan satu buah apel yang tidak halal baginya, pasti dia akan lebih takut kepada Allah dalam menjaga putriku, katanya, "Alangkah bahagianya aku yang telah mendapatkanmu sebagai suami, dan alangkah bahagianya ayahku dengan nasabmu”.

... وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ ... ٣

“2. ...Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar. 3. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka...” (Q. S Ath-Thalaq: 2-3)

Kemudian, setelah setahun berlalu, sang istri dikaruniani seorang anak hasil hasil benih yang ditanam pemuda yang termasuk orang-orang langka umat ini. Tahukah Anda siapakah anak kecil itu? Anak kecil itu adalah Abu Hanifah An-Numan bin Tsabit, ahli fiqh mazhab Islam yang mahsyur. Ulama besar yang keilmuannya terpandang di kalangan para bangsawan.

Dan kita bisa mengambil pelajaran bahwa benarlah apa yang dikatakan Syaikh Musthafa Al-'Adawi hafizhohullah (dalam Fiqh Tarbiyatul Abna') bahwa, 

"Kebaikan dan amal shalih kedua orang tua, memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan seorang anak, dan bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Demikian pula amal buruk dan dosa-dosa besar yang dilakukan oleh kedua orang tua, memiliki dampak negatif terhadap pendidikan anak."

Sunday, October 30, 2016

Kisah Si Anak Batu "Ibnu Hajar al-Asqalani"

Standard

Nama aslinya adalah Al-Haafidh Shihabuddin Abu'l-Fadl Ahmad ibn Ali ibn Muhammad, ia adalah seorang anak yatim, yang ditinggal mati oleh ayahnya. Karena kematian ayahnya tersebut ia merasa terkucil dan tertekan, karena itu ibunya menginginkan agar anaknya itu untuk berangkat ke madrasah untuk belajar, daripada tinggal di rumah karena kesedihannya itu. Ibunya berharap agar madrasah bisa melupakan kesedihannya itu.

Di madrasah tak ada perubahan yang berarti dalam hidupnya, justru hal ini membuatnya semakin tertekan dan frustasi ditambah lagi ia tidak dapat memahami pelajaran-pelajaran di madrasah karena masalahnya itu, sehingga teman-temannya mengolok-oloknya karena kebodohannya dalam memahami pelajaran. 

Suatu hari, ia sudah tidak tahan lagi dengan pelajaran dan olokan tersebut, ia memutuskan kabur dari madrasah tersebut. Kemudian, sampailah ia ke sebuah hutan, dia menelusuri hutan tersebut, dan memikirkan apa yang salah dengan dirinya. Hingga pada waktu itu hujan turun, ia memutuskan untuk berteduh, dia menemukan sebuah gua di dalam hutan tersebut dan berteduh disana.

Di dalam gua, dia merenung dan berpikir tentang dirinya, hingga pikirannya terganggu oleh suara tetesan air, kemudian dia berpaling menuju arah suara air tersebut dan terfokus kepada sebuah batu yang besar. Ternyata batu besar itu ditetesi oleh air itu. Dia melihat batu itu berlubang karena tetesan air itu. Bagaimana mungkin batu sebesar itu bisa tertembus hanya dengan tetesan-tetesan air?

Setelah berpikir lama, dan dia mendapatkan pencerahan jawaban atas dirinya. "Batu yang keras dan sebesar itu saja bisa bolong dengan tetesan air yang sedikit dan lembut itu, apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu itu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar." Saat itu juga dia memutuskan kembali ke madrasah untuk belajar.

Semenjak hal itulah, ia menjadi orang yang sangat dihormati kecerdasannya oleh teman-temannya, dan menjadi seorang ulama besar pasa masa itu. Peristiwa itulah yang menjadi cikal bakal sebutan "Ibnu Hajar" yang berarti "Anak Batu".

Ibnu Hajar termasuk ulama yang sangat produktif. Karya-karyanya tidak kurang dari 100 kitab dari berbagai masalah agama. Bahkan menurut muridnya, karya beliau mencapai 270 kitab. Yang terkenal adalah Fathul Bari, yang merupakan syarah kitab Shahih Bukhari dengan ketebalan sekitar 6000 halaman. Karya lainnya yang terkenal diantaranya; al-Ishabah fi Tamyuzis Shahabah yang berisi biografi para sahabat nabi Muhammad saw, Tahdzibut Tahdzib dan Lisanul Mizan, yang berisi biografi para Rijalul Hadits, Bulughul Maram yang berisi hadits-hadits hukum, Athrafus Shahihain, Nukhbatul Fikar fi Musthalah Ahlul Bukhari, dan lain-lain.

Thursday, August 25, 2016

Musa : "Ya. Rabb. Siapakah Orang yang Paling Banyak Dosanya?"

Standard

Nabi Musa a.s merupakan salah seorang Nabi yang dikenal dapat bercakap-cakap dengan Allah Swt., ia dikenal sebagai Kalemallah.

Suatu ketika, Nabi Musa naik ke sebuah bukit untuk menanyakan akan suatu hal. "Ya Rabbi, siapakah orang yang paling banyak dosanya?"

Kemudian Allah menjawab, "Nanti ketika kau turun dari bukit ini kau akan menjumpai seseorang yang bersama anaknya, dialah orang tersebut"

Keesokan harinya, Nabi Musa kembali berangkat menuju bukit untuk menanyakan suatu hal, "Ya Rabbi, siapakah orang yang tak memiliki dosa hingga hari ini?"

Kemudian Allah menjawab, "Ya Musa, akau akan menjumpai orang tersebut ketika turun dari bukit ini"

Ketika turun dari bukit tersebut ia terkejut, bahwa dia menjumpai orang yang sama seperti kemarin. Dia bingung, bagaimana mungkin orang yang paling banyak dosanya kemarin bisa menjadi orang yang tak berdosa hari ini? Kemudian dia pun kembali ke bukit untuk menanyakan hal itu.

"Ya, Allah bagaimana mungkin orang yang paling banyak dosanya kemarin bisa menjadi orang yang tidak memiliki dosa hari ini?"

Kemudian Allah menjawab, "Setelah pertemuanmu dengannya kemarin, ia dan anaknya pergi ke sebuah tepian laut. Kemudian anak kecil itu bertanya, "Ayahku, apakah ada yang lebih banyak daripada pasir-pasir disini?" Kemudian ayahnya menjawab, "Ada anakku, yaitu air di lautan." Kemudian anak itu bertanya kembali, "Lalu apakah ada yang lebih banyak daripada air di lautan ini ayahku?" "Ada anakku, yaitu dosa-dosaku." Kemudian anak kecil itu pun bertanya lagi, "apakah ada yang lebih banyak di dunia ini dibanding dosa-dosamu duhai ayahku." Kemudian ayahnya pun menjawab, "Tentu saja anakku, yaitu rahmat Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Maka dari cerita itu, Nabi Musa mengetahui bahwa, sebanyak apapun dosa yang telah dilakukan, tetap saja rahmat Allah lebih banyak. Dan apabila seseorang telah menyadari kesalahan-kesalahannya yang lampau, maka rahmat Allah niscaya akan menghapus semua kesalahannya tersebut.

Allahu A'lam bishawab...

Saturday, August 20, 2016

Seorang Penggembala dan Putri Raja

Standard

Pada suatu ketika, hiduplah dua orang sahabat penggembala di sebuah desa, suatu hari salah seorang penggembala pergi menggembalakan gembalaannya ke hutan. Di hutan ia berangan-angan tentang suatu hal, kemudian sekembalinya dari hutan ia menceritakannya pada sahabatnya, bahwa ia ingin menikahi seorang putri raja.

Sahabat itu pun tersontak kaget dan menjawab, "mana mungkin, kita yang hanya seorang penggembala bisa mneikahi seorang putri raja."

Kemudian penggembala tersebut menjadi sedih, gelisah, resah, gundah gulana, tidak nafsu makan, tidak mandi, tak bisa tidur hingga dirinya tidak terurus.  Sahabatnya pun merasa kasihan, jika terus begini sahabat satu-satunya akan mati meninggalkannya.

Kemudian mereka pun pergi ke sebuah desa yang didalamnya terdapat sebuah majelis ta'lim, kemudian bertemu dengan salah seorang sahabat Allah (wali Allah) kemudian mereka menanyakan permasalahannya tentang keinginan sahabatnya menikahi putri raja. Ulama tersebut menjawab, "Oh, itu masalah kecil, semua yang kamu inginkan akan kamu dapatkan... kamu ambil tasbih ini dan pergilah ke gunung di belakang desa ini, disana ada sebuah gua, disana kamu bertasbihlah mengagungkan nama Allah selama 40 hari tanpa berhenti." Kemudian berangkatlah ia.

Satu hari... dua hari... tiga hari terlewati..

Pada hari ke-15 mulai timbul desas-desus, gosip ibu-ibu tentang seorang darwis (sufi) yang sedang bertasbih di sebuah gua, lama kelamaan gosip-gosip itu terus menyebar dari desa, ke kota, dari kota ke kalangan istana, dari kalangan istana ke raja dan patihnya. (Pada hari ke-20)

Kemudian para wazir dan perdana menteri pun berkumpul, merapatkan tentang gosip yang berkembang itu. "Bagaimana kalau kita mengajak sufi tersebut tinggal di istana agar Negeri ini semakin berkah." Hal itu pun disetujui oleh raja dan patihnya. 

Kemudian bagaimana cara mengajak sufi itu agar mau tinggal di istana?

Ada yang menyarankan, "bagaimana kalau kita berikan dia rumah, pasti dia akan mau tinggal di istana."

"Tapi, mana mungkin seorang sufi mengiginkan sebuah kekayaan seperti itu"

"Iya juga ya"

"Bagaimana kalau kita berikan dia jabatan sebagai salah seorang wazir di kerajaan ini"

"Tapi, mana mungkin seorang yang alim seperti beliau menginginkan sebuah jabatan seberti itu"

"Iya juga ya"

Kemudia ada salah seorang yang menyeletuk, "Bagaimana kalau kita nikahkan putri raja dengannya"

Seisi ruangan rapat pun kaget. Diam... 

Kemudian Raja pun berbicara "Hm... boleh juga, aku akan nikahkan putriku kepadanya agar ia tinggal di istana ini"

Tepat pada hari ke-40 yang dijanjikan Raja dan Patih, serta keluarga istana datang ke gua tersebut, mendatangi darwis tersebut. Darwis tersebut pun keluar ditemani sahabatnya. Raja berniat untuk mengajaknyanya tinggal di istana.

Raja memulai percakapan, "Maukah kau tinggal di Istana kami, akan kuberikan rumah yang megah sebagai gantinya."

"Tidak" jawabnya.

"Kalau begitu, maukah kau menjadi seorang wazir di kerajaan kami?"

"Tidak" jawabnya.

Hingga tiba pada pertanyaan terakhir.

"Baiklah, kalau begitu.. meskipun hal ini tidak sebanding dengan ketinggian dan ketakwaanmu. Tapi, maukah kau menikahi putriku dan tinggal di istana bersama kami?"

Luar biasa girang sahabat darwis tersebut, impian sahabatnya yang selama ini diimpikan akan benar-benar terwujud dalam 40 hari. Sambil tersenyum dan menarik baju Darwis tersebut membisikkan "Iya...iya."

"...Tidak" Darwis tersebut telah memberikan jawabannya.

Sahabatnya pun terkejut, "apa yang kau katakan, bukankah kau selama 40 hari bertasbih di gua ini terus menerus tanpa henti agar dapat menikahi putri raja? Tapi mengapa kau menolaknya."

"Benar, selama 40 hari aku bertasbih untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Tapi, apakah yang tidak akan aku dapatkan jika aku terus berada di jalan ini, terus bertasbih dan mengagungkan nama Allah?"

Wednesday, February 24, 2016

Tiga Ekor Ikan

Standard
Tiga Ekor Ikan
Konon hiduplah tiga ekor ikan dalam sebuah kolam. Mereka adalah: seekor ikan pandai, setengah pandai, dan seekor ikan bodoh. Kehidupan mereka berjalan apa adanya seperti layaknya kehidupan ikan di mana saja sampai akhirnya muncullah seorang laki-laki.

Ia membawa sebuah jaring, dan si ikan pandai melihat kehadiran laki-laki itu melalui air. Dari pengalamannya, cerita-cerita yang pernah di dengarnya dan karena kecerdikannya, ia memutuskan untuk bertindak. 

"Kolam ini tidak memiliki banyak tempat untuk berlindung," pikirnya. "Karenanya, aku harus pura-pura mati."

Si ikan pandai itu pun mengerahkan seluruh tenanganya dan melompat ke luar, mendarat tepat di bawah kaki sang nelayan, yang tampak sedikit terkejut. Tetapi ketika si ikan pandai itu menahan napasnya, sang nelayan menganggapnya telah mati; dan melemparkannya ke kolam kembali. Ikan ini segera menyusup ke dalam liang kecil di tepi kolam.

Tiba giliran ikan kedua, yang setengah pandai, tidak begitu memahami apa yang telah terjadi, Jadi ia berenang menuju si ikan pandai dan bertanya kepadanya tentang hal itu. "Mudah saja," jawab si ikan pandai, "aku pura-pura mati, sehingga ia melemparkanku kembali."

Begitulah, ikan setengah pandai itu segera melompat dari air, tepat di kaki si  nelayan."Aneh," pikir si nelayan, "mereka melompat dari segala tempat." Dan, karena si ikan ini lupa menahan napas, si nelayan menyadari bahwa ia masih hidup dan memasukkannya ke dalam keranjang.

Nelayan itu kembali melihat-lihat ke air, dan karena agak bingung oleh ulah ikan-ikan yang berlompatan ke tanah kering di depannya, ia tidak menutup keranjangnya. Dan si ikan setengah pandai, ketika menyadari situasi ini, mampu melepaskan diri dan keluar, meringsek menuju ke air. Ia mencari ikan pertama dan bersembunyi di sampingnya.

Sekarang ikan ketiga, si ikan bodoh, sama sekali tidak memahami semua ini, sekalipun sudah mendengarkan cerita dari ikan pertama dan kedua. Jadi mereka berdua menegaskan setiap hal kepada si ikan bodoh, menekankan pentingnya untuk tidak bernapas, sebagai upaya untuk berpura-pura mati.

"Terima kasih banyak, sekarang aku mengerti," kata si ikan bodoh. Bersamaan dengan kata-kata ini, ia mengangkat tubuhnya keluar dari air dan mendarat di samping nelayan.

Dan sang nelayan, karena telah kehilangan dua ekor ikan, maka ia memasukkan ikan ketiga ini ke dalam keranjang tanpa berpikir apakah ikan itu bernapas atau tidak. Ia terus melemparkan jala ke dalam kolam berulang-ulang, tetapi dua ikan yang berhasil lolos tersebut tetap bersembunyi ketakutan di tempat persembunyian mereka. Dan keranjang nelayan itu sekarang benar-benar tertutup.

Akhirnya, nelayan itu mneyerah. Ia membuka keranjang, menyadari bahwa ikan bodoh itu tidak bernapas, dan membawanya pulang untuk diberikan kepada kucingnya.

Monday, January 25, 2016

Renungan Cinta

Standard
Tafakkur

Cinta itu sulit dipahami,
Didiamkan menyiksa,
Dipaksakan bukan cinta,
Karena itu lebih baik mengembara saja,
Tidak terikat dengan cinta.

Karena cinta sejati hanya pada seorang ibu pada anaknya,
Tapi cinta hakiki hanyalah Tuhan pada hambanya,
Karena itu jangan terlalu berharap lebih selain kedua itu karena bisa saja menyiksa.

Pandanganmu itu nafsu semata,
Kau tak bisa mengelaknya,
Jika tak menjaga pandanganmu,
Aku harapkan kedatangan orang setelahku,
Yang memahami sepertiku tentang dunia.

Sehingga dia dapat melanjutkan,
Apa yang ingin aku sampaikan pada dunia.

Jika kau bersiap untuk maju,
Kamu harus melepas semua bebanmu,
Dan jangan memungut beban lain di jalan.

Tulisan pada secarik kertas "Pemahaman Hidup" pada bait pertama.
Tertulis, 25 September 2015

Sunday, January 24, 2016

Kisah Tentang Laron

Standard
Dongeng Laron
Laron yang dikenal sebagai semut putih atau white ants ini, akan keluar secara bergerombol dari dalam tanah pada saat udara terasa lembab. Sebelum menjadi laron, mereka adalah rayap yang bersarang dan memakan kayu beserta perabot rumah tangga yang terbuat dari kayu. Habitat sesungguhnya dari binatang ini adalah pohon-pohon dan paling banyak di dalam tanah. 

Dalam koloni, rayap memang tidak memiliki sayap. Namun demikian, beberapa rayap dapat mencapai bentuk bersayap yang akan keluar dari sarangnya secara berbondong-bondong pada awal musim penghujan (sehingga seringkali menjadi pertanda perubahan ke musim penghujan) di petang ataupun pagi hari dan beterbangan mendekati cahaya. Di pagi hari, mereka tidak terlalu menganggu manusia karena hanya terbang berputar putar saja. Tapi di malam hari, mereka akan terbang menuju ke cahaya lampu di dalam rumah kita.

Selama musim hujan, keadaan tanah menjadi basah. Udara disekitarnya pun menjadi lembab. Pada saat itulah, mereka akan keluar dan mencari cahaya, dari cahaya lampu-lampu yang bersinar. Salah satu penyebabnya adalah menghindari udara lembab untuk menghangatkan tubuhnya. Selain itu, laron mencari cahaya terang untuk melakukan proses perkembangbiakan. Pada saat itu, laron sedang gencar-gencarnya mencari pasangan dan menikah di tempat yang terang pula. 

Dalam dunia rayap, ada yang namanya kasta. Ada kasta reproduktif, kasta prajurit, dan kasta pekerja. Hampir sama seperti semut, dalam koloni rayap juga ada raja dan ratu rayap. 

Ketika musim hujan tiba, raja dan ratu rayap di dalam tanah berpesan kepada para laron yang akan dilepas keluar. Mereka akan diterbangkan menuju bulan, bulan yang dimaksud adalah lampu yang terang. Di bulan, akan ada pesta pencarian jodoh. Para laron single ini akan berjuang dari mulai keluar dari sarang di dalam tanah hingga mendapatkan pasangannya. 

Ada banyak rintangan yang mereka hadapi, ketika baru keluar dari lubang tanah, mereka akan berdesak-desakan dan hal ini dapat menyebabkan sayap mereka patah. Jika sayap mereka patah, mereka tidak dapat terbang menuju “bulan”. Selain itu, masih ada kemungkinan mereka akan dimangsa hewan predator seperti cicak, kadal, dan katak. Bahkan, manusia juga ada lho yang makan laron. Laron dapat dibuat menjadi peyek lalu dimakan. Nah, jika mereka berhasil menemukan pasangannya, maka sayap mereka akan lepas karena sudah tidak dibutuhkan lagi kemudian mereka akan menuju lubang tanah untuk berbulan madu. 

Pasangan laron ini akan membentuk koloni baru dan mereka menjadi raja dan ratu laron dalam koloni tersebut. Sedangkan yang gagal menemukan pasangannya di kerumunan cahaya lampu itu, akan segera mati ketika fajar menyingsing. laron memang memiliki umur yang sangat pendek. Laron hanya berumur kurang lebih satu hari untuk mendapatkan pasangan kemudian melanjutkan fase hidupnya.