Showing posts with label Dakwah. Show all posts
Showing posts with label Dakwah. Show all posts

Monday, November 14, 2016

Tasawuf : Berkomunikasi Dengan Mursyid

Standard

Dalam ber-tasawuf, ada beberapa tingkatan yang harus dilalui untuk mewujukan perwujudan insan kamil, yaitu manusia yang sempurna. Di dalam pembelajaran Aqidah-Filsafat biasa dijelaskan untuk mencapai tingkatan ini dengan istilah Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Semua tahapan-tahapan ini adalah jalan yang akan dilalui oleh orang-orang yang bertasawuf.

Pada perbincangan kali ini, penulis bermaksud memaparkan apa itu Takhalli dan bagaimana cara melakukan Takhalli?

Takhalli adalah proses yang paling pertama dalam ber-tasawuf, dimana seseorang akan melakukan penghancuran jiwa atau dikenal dengan istilah penyucian jiwa, sering disebut Tazkiyatun Nafs. Orang-orang buddha (Buddhisme) menyebutnya dengan istilah kontemplasi (contemplation).

Pada tahap ini seseorang berusaha untuk menundukkan nafsu yang melekat pada dirinya, sehingga nafsu itu dapat dikendalilan oleh dirinya. Sehingga apabila nafsu itu telah ditaklukkan maka segala sesuatu yang bersumber dari orang tersebut akan menjadi sesuatu yang benar-benar baik.

Dalam sebuah hadits yang diriwatkan oleh Ja'far Ash-Shodiq dalam kitabnya Misbah Syari'ah

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

"Barang siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhannya"

Banyak cara untuk melakukan penyujian jiwa (takhalli) ini, diantaranya adalah melakukan "Rabithah". Rabithah adalah melakukan penyucian jiwa dengan ber-tawasul kepada seorang Mursyid yang dianggap dan diyakini merupakan seorang yang dekat dengan Allah. Atau biasa disebut Wali Allah. Seorang Mursyid inilah yang akan membimbing kita untuk mengarahkan pada bentuk pelaksanaan yang benar.

Rabithah secara bahasa berarti bertali, berkait atau berhubungan. Sedangkan dalam pengertian istilah, Rabithah adalah menghubungkan ruhaniah murid dengan ruhaniah Mursyid dengan cara menghadirkan rupa/wajah Mursyid ke hati sanubari murid ketika berdzikir atau beramal guna mendapatkan wasilah dalam rangka perjalanan murid menuju Allah atau terkabulnya do’a. Hal ini dilakukan karena pada ruhaniah Mursyid itu terdapat Arwahul Muqaddasah Rasulullah Saw atau Nur Muhammad. Mereka adalah wasilah atau pengantar menuju Allah. 

Karena sesungguhnya hanya orang-orang yang dekat dengan Allah sajalah yang dapat berkomunikasi dengan-Nya. Maka, sebagai selayaknya orang yang awam akan ilmu ghaib akan bernaung kepada Mursyid mereka untuk mendapatkan rahmat dari Allah. Karena sesungguhnya cahaya Allah itu amat kuat, sebagaimana dijelaskan dalam Qur'an Surah an-Nur ayat 35:

... نُّورٌ عَلَىٰ نُورٖۚ يَهۡدِي ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُۚ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَٰلَ لِلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ٣٥

"35. ... Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Penulis memisalkan bahawa para Mursyid ini layaknya resistor dalam suatu aliran listrik yang amat besar. Dan Allah merupakan listrik itu. Mudahnya kita sebut PLN dan listrik di perumahan. Apa yang akan terjadi apabila listrik dari PLN yang berjumlah jutaan Watt langsung menuju listrik di perumahan kita? Korslet, bahkan bisa terjadi ledakan karena besarnya voltase yang diterima. Oleh karena itu, dibutuhkan resistor-resistor untuk menghambat besarya voltase, agar dapat digunakan oleh pemilik rumah tersebut.

Seperti itulah perumpamaan fungsi Mursyid kepada muridnya untuk meminta rahmat Allah.

Karena itulah Allah memerintahkan kepada mnausia untuk mencari wasilah-wasilahnya agar dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Qur'an Surah al-Ma'idah ayat 35:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

"35. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan."

Sunday, October 30, 2016

Kisah Si Anak Batu "Ibnu Hajar al-Asqalani"

Standard

Nama aslinya adalah Al-Haafidh Shihabuddin Abu'l-Fadl Ahmad ibn Ali ibn Muhammad, ia adalah seorang anak yatim, yang ditinggal mati oleh ayahnya. Karena kematian ayahnya tersebut ia merasa terkucil dan tertekan, karena itu ibunya menginginkan agar anaknya itu untuk berangkat ke madrasah untuk belajar, daripada tinggal di rumah karena kesedihannya itu. Ibunya berharap agar madrasah bisa melupakan kesedihannya itu.

Di madrasah tak ada perubahan yang berarti dalam hidupnya, justru hal ini membuatnya semakin tertekan dan frustasi ditambah lagi ia tidak dapat memahami pelajaran-pelajaran di madrasah karena masalahnya itu, sehingga teman-temannya mengolok-oloknya karena kebodohannya dalam memahami pelajaran. 

Suatu hari, ia sudah tidak tahan lagi dengan pelajaran dan olokan tersebut, ia memutuskan kabur dari madrasah tersebut. Kemudian, sampailah ia ke sebuah hutan, dia menelusuri hutan tersebut, dan memikirkan apa yang salah dengan dirinya. Hingga pada waktu itu hujan turun, ia memutuskan untuk berteduh, dia menemukan sebuah gua di dalam hutan tersebut dan berteduh disana.

Di dalam gua, dia merenung dan berpikir tentang dirinya, hingga pikirannya terganggu oleh suara tetesan air, kemudian dia berpaling menuju arah suara air tersebut dan terfokus kepada sebuah batu yang besar. Ternyata batu besar itu ditetesi oleh air itu. Dia melihat batu itu berlubang karena tetesan air itu. Bagaimana mungkin batu sebesar itu bisa tertembus hanya dengan tetesan-tetesan air?

Setelah berpikir lama, dan dia mendapatkan pencerahan jawaban atas dirinya. "Batu yang keras dan sebesar itu saja bisa bolong dengan tetesan air yang sedikit dan lembut itu, apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu itu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar." Saat itu juga dia memutuskan kembali ke madrasah untuk belajar.

Semenjak hal itulah, ia menjadi orang yang sangat dihormati kecerdasannya oleh teman-temannya, dan menjadi seorang ulama besar pasa masa itu. Peristiwa itulah yang menjadi cikal bakal sebutan "Ibnu Hajar" yang berarti "Anak Batu".

Ibnu Hajar termasuk ulama yang sangat produktif. Karya-karyanya tidak kurang dari 100 kitab dari berbagai masalah agama. Bahkan menurut muridnya, karya beliau mencapai 270 kitab. Yang terkenal adalah Fathul Bari, yang merupakan syarah kitab Shahih Bukhari dengan ketebalan sekitar 6000 halaman. Karya lainnya yang terkenal diantaranya; al-Ishabah fi Tamyuzis Shahabah yang berisi biografi para sahabat nabi Muhammad saw, Tahdzibut Tahdzib dan Lisanul Mizan, yang berisi biografi para Rijalul Hadits, Bulughul Maram yang berisi hadits-hadits hukum, Athrafus Shahihain, Nukhbatul Fikar fi Musthalah Ahlul Bukhari, dan lain-lain.

Monday, October 24, 2016

Menjadi Muslim Yang Sejati

Standard


Ada sebuah ucapan atau ungkapan yang sering kita dengar, tajri riahi bima la tastahi soufon, terkadang angin bertiup tidak sesuai dengan keinginan nelayan. Tapi bagaimana seorang muslim menghadapi hal itu, ketahuilah bahwa semua takdir Allah Swt pasti, baik buat kita, karena Allah Swt, tidak bertindak, melainkan tindakannya berdasarkan ilmu dan hikmah. Apapun yang menimpa kita, apapun yang terjadi dengan keluarga kita, dan anak-anak kita, dengan usaha kita, katakan, qodrullah wama syafaat.

Seorang muslim mengatakan itu takdir Allah Swt, dan Allah bertindak dengan apa yang ia dikehendaki, dia fa'alu lima yurid, dan dalam semua kondisi, seorang muslim harus berada diantara dua hal. Nikmat yang Allah berikan dia syukuri, dan musibah yang datang kepada dia, dan musibah yang datang kepada dia, dia bersabar, dan itulah kunci kebahagiaan seorang hamba ketika hidup di muka bumi ini.

By: Suparman (Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Semester 3)

Saturday, April 30, 2016

Dakwah Islam Masih Berlanjut

Standard

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh...

Teman-teman seperjuangan yang saya kasihi dan sayangi,

Senang, karena dapat berjumpa lagi dalam blog ini yang semoga diberkahi - "Amien". Pada kesempatan kali ini, penulis ingin membagi sedikit cerita terkait perjalanan hidupnya selama beberapa pekan terakhir ini. Sebelum itu, maafkan keterlambatan yang amat dari penulis dalam hal pemberhentian selama beberapa saat dalam memposting di blog ini. Hal ini dikarenakan kesibukan dari penulis sendiri, kemudian kendala dalam jaringan, serta semangat menulis yang mulai terganti dengan semangat membaca.

Islam, bukanlah sekedar agama yang menjadi simbol sahaja. Islam yang sesungguhnya adalah membangkitkan jiwa cinta pada Ilahi, dan kasih sayang bagi seluruh makhluk-Nya. Islam yang sebenarnya tak mengenal kata kehancuran dan kerusakan, Islam mengajarkan merawat dan menyayangi. 

Wahai, teman-teman yang saya kasihi...

Dakwah Islam masih terus berlanjut, jangan berhenti disini. Perlihatkan Islam yang sesungguhnya, yang mengajarkan kedamaian, bukan keresahan yang akhir-akhir ini terlihat di media. Dakwah Islam akan sulit dilakukan jika hanya dengan lisan. Bagaimana seseorang bisa yakin apabila kita tidak membuktikan?

Duhai, muslimin yang jiwanya hampir kosong...

Seringkali, kita tidak menyadari bahwa kita, seseorang yang menyandang gelar Islam di jidad kita, justru tidak memperlihatkan Islam itu seperti apa. Kita hanya mengharapkan orang lain tahu bahwa kita Islam, tanpa memperlihatkan Islam itu apa. Atau justru kita sendiri yang tidak tahu Islam itu apa?
Kita kehilangan jiwa dalam jasad ini. Jiwa yang mengharapkan keridhoan dan ampunan-Nya.

Dakwah ini harus dilanjutkan!

Dakwah ini masih harus berlanjut, tidak boleh berhenti. Jadilah seseorang yang dimanapun berada menjadi penyempurna akhlak komunitas disana, menjadi panutan akhlak seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Dakwah tidaklah harus dengan tangan ataupun lisan, melalui praktek yang kita lakukan sudahlah cukup untuk mengetuk hati seseorang. Yang terpenting bukanlah kita memaksa atau menceramahi orang agar mengerti, tapi mengetuk hati seseorang agar mengerti, mengerti dengan hatinya sendiri, dan memahami dengan akalnya sendiri.

Semoga awal niat yang baik ini, bisa dibagikan kepada seluruh umat manusia, terlepas dari permasalahan agama, yang terpenting adalah menanamkan nilai-nilai praktis dalam konteks keislaman itu sendiri. Karena segala bentuk kebaikan adalah Islam itu sendiri.